JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PUAP Sukses, Pengurus Wajib Profesional

Gapoktan atau gabungan kelompok tani adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha. Misalnya adalah Gapoktan PUAP Harapan Jaya, dimana telah berdiri sejak tahun 2007 dan menjadi Gapoktan PUAP tahun 2009. Gapoktan Harapan Jaya memiliki  16 kelompok tani dan 670 orang anggota kelompok tani.

Gapoktan ini berada di Desa Kasang Pudak RT. 43, Kabupaten Muara Jambi, dengan ketua Gapoktan Bapak  Sanidi, sekretaris Sutrisno, dan bendahara Suwadi. Dari hasil bincang-bincang dengan pengurus Gapoktan Harapan Jaya 9/8/2017, dana PUAP yang kami terima pak sebesar 100 juta rupiah, dan kami sudah mencairkan ke anggota kelompok tani mulai tahun 2010. Dana terus digulirkan ke petani. Yang penting katanya dana yang dipinjamkan ke anggota harus kembali. Bagaimana caranya ? harus betul-betul dipahami secara bersama baik petani peminjam modal usaha, ketua kelompok tani dan pengurus Gapoktan. Alhamdulillah Gapoktan Harapan Jaya sampai saat ini telah memiliki aset sebesar 1,4 milyar dari bantuan modal usaha 100 juta.  Sekarang kami sudah membentuk LKMA untuk menangani bantuan modal yang diterima Gapoktan PUAP, sehingga dapat berjalan dengan baik.

 Pengurus gapoktan itu letak keberhasilan Program PUAP sekarang. Sejak tahun 2016 BLM-PUAP tidak dikucurkan lagi oleh Kementerian Pertanian, bahkan Penyelia Mitra Tani (PMT) tidak lagi diperpanjang masa kontraknya untuk melakukan pendampingan terhadap Gapoktan PUAP. Kemudian siapa lagi yang melakukan pendampingan dan pembinaan? Tentunya pengurus Gapoktan itu sendiri, mereka harus mandiri. Untuk itu pengurus Gapoktan harus mempunyai ilmu manajerial yang baik sehingga roda kegiatan Gapoktan dapat berjalan dengan baik.

Keterbukaan diantara pengurus Gapoktan, ketua kelompok tani dan petani, sangat penting tandas Ketua Gapoktan Pak Sanidi. Karena niat yang baik akan melahirkan hasil yang baik juga. Jika sudah tidak ada kekompakan, komunikasi diantara pengurus, dan kong kalikong ini yang gawat. Akibatnya masalah tidak bisa diselesaikan, dan berlarut-larut sehingga Program PUAP tidak berjalan.

Untuk meningkatkan komunikasi diantara pengurus Gapoktan Harapan Jaya dan ketua kelompok tani, selalu diadakan rapat rutin bulanan membahas perkembangan dana PUAP yang digulirkan, serta masalah usaha tani lainnya. Setiap tanggal 10 pada bulan yang bersangkutan rapat di rumah ketua kelompok tani. Teman-teman pengurus dan semua ketua kelompok tani harus ikut rapat, melaporkan perkembangan dana PUAP yang dipinjamkan.

Jika terdapat kelompok tani yang macet mengembalikan angsuran, itu tanggung jawab ketua kelompoknya dahulu, setelah tidak bisa diselesaikan baru pengurus ikut membantu.  Jadi harus ada komitmen 

antara ketua dan petani peminjam bahwa modal usaha yang diberikan harus dikembalikan. Untuk itu peran ketua kelompok tani harus selektif melihat persyaratan yang diajukan petani untuk  peminjaman modal usaha.  

Penyebaran bantuan modal usaha yang diberikan ke Gapoktan Harapan Jaya pada awalnya pada tahun 2013, terlihat 65 % berada pada usaha produktif tanaman pangat (on farm) yaitu untuk usaha menanam padi ladang, jagung, dan tanaman sayuran. 35 % lagi diperuntukkan untuk usaha produktif bakulan (off farm). Usaha bakulan yang dilakukan petani antara lain pengumpul dan menjual hasil sayuran, usaha rumah tangga seperti membuat kripik, macam olahan kue, usaha penjual makanan ringan, usaha rumah makan, dll. Sedangkan usaha produktif bidang perkebunan dan peternakan belum diminati petani karena di wilayah Gapoktan  Harapan Jaya tidak tersedia lahan yang luas untuk perkebunan. Demikian juga halnya untuk peternakan karena petani umumnya tinggal dekat dengan perumahan yang sudah  agak padat penduduknya.

Perkembangan usaha produktif bidang pangan (on farm) dari tahu 2013 sampai tahun 2017, terus mengalami penurunan. Sedangkan usaha produktif bakulan seiring tahun mengalami kenaikan. Hal ini disebab keuntungan yang diperoleh petani dengan usaha bakulan lebih cepat,dan resiko kegagalan usaha lebih kecil dibandingkan dengan usaha pangan (off farm). Resiko usaha bakulan biasanya erat dengan kualitas produk dan pemasaran, sedangkan usaha pangan (on farm) erat hubungannya dengan resiko kemarau panjang, tanah kurang subur, serangan hama penyakit dan harga komoditi rendah. (Jainal Abidin Hutagaol, SP/ Penyuluh BPTP Jambi)