• Font size:
  • Decrease
  • Reset
  • Increase

TEKNOLOGI SALIBU BUDIDAYA PADI HEMAT BENIH DAN BIAYA

Ketersediaan saprodi dan biaya untuk usaha tani merupakan kendala yang dapat menghambat luas tambah tanam pada program UPSUS padi yang dicanangkan pemerintah dalam rangka peningkatan produksi padi. Ketersediaan benih bermutu, dalam jumlah yang tidak mencukupi dan waktu pendistribusian yang kurang tepat dapat menghambat penanaman yang sudah direncanakan, dan berimbas pada tidak tercapainya target produksi, sedangkan benih bermutu merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan produksi.

Menurut Nurasa dan Purwoto (2012) yang melakukan penelitian pada tahun 2010 dengan sumber data BPS, diketahui komponen biaya paling besar yang harus dikeluarkan petani pada usaha tani padi adalah upah pekerja yang berkisar 61 - 69%. Alokasi upah diantaranya untuk kegiatan pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman dan panen.¬† Walaupun telah banyak dihasilkan alsintan oleh lembaga penelitian untuk mengefisienkan tenaga kerja dan meminimalkan upah, namun banyak kendala yang dihadapi dalam aplikasinya diantaranya tipologi sawah yang berbeda, keadaan tinggi air yang dalam, serta petakan sawah yang kecil dan lain sebagainya. ¬†Sehingga pekerjaan tetap dilakukan secara manual dengan mengambil porsi upah yang cukup banyak. Perlu upaya untuk menanggulangi masalah keterbatasan benih dan dapat mengurangi biaya usahatani salah satunya melalui penerapan ‚ÄúTeknologi ¬†Salibu‚ÄĚ, teknologi ini sekarang sudah mulai berkembang di masyarakat.

Teknologi Salibu merupakan ratun (ratoon) yang dimodifikasi. Ratun adalah kemampuan tanaman padi untuk membentuk anakan baru setelah panen, anakan ini dapat dimanfaatkan sebagai bibit pengganti benih yang disemai pada tanam pindah (Chauhan et al 1985; Erdiman, 2014). Teknologi ratun padi telah berkembang di beberapa negara seperti India, Philipina, China, Amerika dan lain-lain. Ratun juga telah dikenal oleh petani Indonesia sejak lama dengan berbagai nama, seperti singgang, turiang, suli dll, namun hasilnya sangat rendah. Pada teknologi salibu, telah dilakukan berbagai inovasi teknologi sehingga hasilnya bisa lebih baik dibanding teknologi indigenous, misalnya waktu pemanenan tanaman utama, pengaturan kondisi air tanah setelah panen, tinggi pemotongan atau pangkasan, dan penggunaan pupuk.

KEUNTUNGAN TEKNOLOGI SALIBU

Hemat Benih

Benih hanya diperlukan pada saat penanaman tanaman induk atau tanaman utama, selanjutnya bahan tanam yang digunakan untuk salibu berasal dari tunas yang muncul dari tunggul padi yang sudah dipanen, dan hal ini dapat dilakukan sebanyak 2-4 kali tanam. Dengan kata lain melalui teknologi salibu kita bisa menggunakan benih satu kali untuk memanen berkali-kali.

Terjaminnya Ketersediaan Benih Bermutu.

Jika kita menggunakan benih bermutu pada penanaman tanaman utama, maka pada salibu pertama atau berikutnya, kualitas atau mutunya sama. Bahan tanam yang digunakan merupakan anakan yang muncul setelah panen, berarti yang dimanfaatkan adalah bagian vegetatif tanaman sehingga hasil atau mutunya tidak akan jauh berbeda dari tanaman induknya. Secara tidak langsung ketersediaan benih bermutu pada saat yang dibutuhkan dan dalam jumlah yang cukup sudah dapat dipenuhi melalui teknologi salibu ini.

Hemat Biaya

Karena tidak membutuhkan benih maka pengeluaran untuk benih tidak diperlukan. Petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pengolahan lahan. Teknologi Salibu juga dapat menekan biaya tanam, karena penanaman tidak lagi dilakukan, diganti dengan pemotongan batang dan penyulaman tanaman yang tidak tumbuh. Petani juga dapat menghemat biaya pemeliharaan tanaman, karena umur tanaman menjadi lebih pendek dibanding tanaman utama.

 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN SALIBU

  1. 1.   Tanaman Utama/Induk/Ibu

Tanaman utama harus memiliki kemampuan menghasilkan ratun yang tinggi, hal ini dapat dilihat dari kondisi tanaman setelah dipanen, apakah menghasilkan ratun atau tidak. Padi hibrida  menghasilkan ratun yang lebih banyak dari padi inbrida. Padi hibrida dan padi tipe baru (PTB) seperti  Maro, Rokan dan Hipa-4 berpotensi menghasilkan ratun 76 - 100%.  Selain itu tanaman utama harus sehat, tanaman yang sehat akan menyisakan tunggul dan ratun yang sehat dan akan mampu menghadapi kondisi lingkungannya dengan lebih baik, dibanding tanaman utama yang terkena penyakit.

  1. 2.   Waktu Panen

Waktu pemanenan tanaman utama sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman utama dan salibu. Pemanenan yang terlalu dini menyebabkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman utama menjadi rendah, sedangkan pemanenan terlalu lambat menyebabkan tunas kurang berkembang sehingga keberhasilan salibu rendah.

  1. 3.   Keadaan Air Tanah Sebelum dan Setelah Panen

Air diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tunas. Kekeringan dapat menyebabkan tunas - tunas yang tumbuh akan mengering dan bahkan mengalami kematian. Sedangkan genangan atau rendaman dapat menyebabkan tunggul menjadi busuk sehingga salibu tidak akan berkembang.

  1. 4.   Tinggi Pemotongan / Pemangkasan

Pemotongan yang terlalu tinggi menyebabkan jumlah tunas yang terbentuk menjadi lebih sedikit, sedangkan pemotongan terlalu rendah menyebabkan umur tanaman menjadi lebih panjang, dan tunas banyak yang mati. Pada ratun konvensional, pemotongan batang padi hanya dilakukan saat panen, namun pada teknologi salibu pemotongan dilakukan dua kali yaitu saat panen tanaman utama dan setelah muncul tunas dari pemotongan pertama. Tujuan pemotongan pertama selain panen adalah untuk melihat kemampuan tunas /ratun dari padi yang ditanam, jika tunas yang tumbuh > 70% populasi maka teknologi salibu dapat diterapkan. Pemotongan kedua bertujuan untuk menumbuhkan lebih banyak tunas yang dorman dan anakan yang tumbuh menjadi seragam, sehingga nantinya panen bisa dilakukan secara serempak.

 

 

 

 

TATA CARA PELAKSANAAN TEKNOLOGI SALIBU

  1. 1.   Penanaman Tanaman Induk

Penanaman tanaman induk sebaiknya mengikuti pendekatan model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kondisi tanaman utama yang lebih baik sehingga hasil padi meningkat dan terjadi efisiensi masukan produksi (Abdulrahman et al. 2015). Pilihan teknologi yang dapat digunakan antara lain penggunaan benih bermutu dari varietas unggul berdaya hasil tinggi baik hibrida maupun inbrida dengan kemampuan ratun yang tinggi (lebih dari 70% populasi tumbuh), pemupukan berimbang, pengaturan jarak tanam dengan sistem tanam jajar legowo.

  1. 2.   Pengaturan air tanah sawah sebelum dan sesudah panen

Dua minggu sebelum dan sesudah panen, kondisi tanah sawah diusahakan dalam kapasitas lapang atau lembab, tidak perlu tergenang tinggi. Hal ini untuk menjaga tunas tumbuh dan berkembang dengan baik.

  1. 3.   Pemanenan Tanaman Induk

Pemanenan dilakukan pada saat matang fisiologis (bulir kuning 95%), sebelum padi matang penuh, saat itu batang tanaman masih terlihat hijau. Biasanya dilakukan lebih cepat 7 ‚Äď 10 hari dari panen biasa. Hal ini dimaksudkan supaya tanaman atau tunas tanaman yang selama ini dorman, tidak mati dan bisa berkembang membentuk anakan. Padi dipanen menggunakan sabit atau arit bergerigi, dengan menyisakan batang paling tinggi 25 cm dari atas tanah.

  1. 4.     Pengendalian Gulma

Lakukan penyiangan gulma atau semprot dengan herbisida kontak, segera setelah panen untuk menekan pertumbuhan gulma di awal pertumbuhan tunas/ratun.

  1. 5.   Pemotongan Ulang Batang Padi

Lakukan pemotongan ulang batang padi 7 ‚Äď 10 hari setelah panen, dengan tinggi potongan berkisar 3-5 cm di atas tanah.¬† untuk mempercepat pemotongan dapat dilakukan menggunakan alat pemotong rumput.

  1. 6.   Penggenangan sawah

Sawah dapat digenangi jika tunas telah tumbuh setinggi 5‚Äď7 cm, usahakan tunas tidak sampai tenggelam karena dapat menyebabkan tunas busuk.

  1. 7.   Penyisipan

Pada umur 2-3 minggu setelah pemotongan batang, lakukan penyisipan tanaman yang tidak tumbuh dengan cara membelah rumpun yang memiliki anakan banyak, kemudian ditanam pada barisan tanaman yang kosong, atau tanaman yang tidak tumbuh.

  1. 8.   Pemupukan

Jumlah pupuk yang diberikan untuk padi yang disalibukan sama dengan jumlah pupuk yang diberikan untuk tanaman utama. Aplikasi pemupukan pertama dilakukan saat umur 15-20 hari setelah pemotongan (HSP) sebanyak 40% dari dosis, sedangkan sisanya diberikan saat berumur 30-35 HSP.

  1. 9.   Pemanenan

Jika keadaan air mencukupi untuk melakukan salibu ke dua atau berikutnya, maka panen dilakukan seperti pada panen tanaman utama. Sedangkan jika salibu cuma dilakukan satu kali, maka pemanenan dilakukan sampai gabah matang penuh.

 

BAHAN BACAAN

Abdulrachman, S., dkk. 2015. Panduan Teknologi Budidaya Salibu. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Akhgari, H., and S.A.Noorhosseini-Niyaki. 2014. Effects Of First Harvest Time on Total Yield and Yield Components in Twice Harvesting of Rice (Oryza Sativa L.) in Rasht, Iran. Int. J. Biosci. Vol. 4(5). p. 210-215

Chauhan, J.S., B.S. Vergara and F.S.S. Lopes. 1985. Rice Ratooning. IRRI Research Paper Series. No. 102.

Erdiman. 2014. Teknologi Salibu Budidaya Padi Hemat Benih (Panen 1 kali panen berkali-kali). Meningkatkan Produktivitas Lahan dan Pendapatan Petani serta Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan. BPTP Sumatera Barat. Disampaikan pada Sosialisasi Teknologi Salibu di BPTP Jambi. 2015.

Liu, K., J. Qin, B. Zhang and Y. Zhao.  2012 Physiological traits, yields and nitrogen translocation of ratoon rice in response to different cultivations and planting periods. Afr. J. Agric. Res. Vol : 7(16), pp. 2539-2545

Nurasa, T. dan A. Purwoto. 2012. Analisis profitabilitas usaha tani padi pada agroekosistem lahan sawah irigasi di jawa dan luar jawa perdesaan patanas. http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/Pros_2012_03C_MP_TjetjepADP.pdf.  Diakses tanggal 17 Agustus 2016

 

Sinaga, P.H., Trikoesoemaningtyas, D. Sopandie dan H. Aswidinnoor. 2015. Daya Hasil dan Stabilitas Ratun Galur Padi pada Lahan Pasang Surut. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan,  Vol : 34(2). Hal. 97 - 104

Susilawati, B.S. Purwoko, H. Aswidinnoor dan E. Santosa. 2010. Penampilan varietas dan galur padi tipe baru Indonesia dalam system ratun. J. Agron. Indonesia. Vol : 3(2)

Susilawati. 2013. Peningkatan Produktivitas dan efisiensi usahatani padi system ratun di lahan pasang surut. Buletin Inovasi Teknologi Pertanian. Edisi 1, Vol. 1. Hal.¬† 12 ‚Äď 17

Switch mode views:

Style Sitting

Fonts

Layouts

Direction

Template Widths

px  %

px  %