JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Swasembada Daging Versus Jembrana

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

jembrana

Sumber Foto : Abdul Roni (2017)

Sapi bali merupakan plasma nutfah lokal ternak besar yang dimiliki Indonesia. Penyebaran bangsa sapi yang berasal dari pulau Bali ini telah mencapai daerah-daerah pelosok di nusantara. Berbagai keunggulan menjadi pertimbangan bagi peternak dalam memilih sapi bali sebagai ternak dalam usaha peternakan. Sehingga sapi bali juga menjadi salah satu bangsa sapi yang telah berkontribusi dalam upaya swasembada daging di Indonesia. Beberapa keunggulan sapi bali adalah:

  1. mampu mencerna pakan nutrisi yang sederhana dengan lebih baik dibandingkan sapi bangsa lain, sehingga pemeliharaan ternak sapi bali pada lahan kritis memiliki peluang untuk berkembang
  2. performan reproduksi yang lebih baik, yang ditandai persentase keberhasilan kebuntingan 60-70%/satu kali perkawinan,
  3. persentase karkas yang lebih tinggi (diatas 56 %) dan kadar lemak yang rendah dibandingkan sapi bakan dan kualitas nutrisi rendahngan bagi peternak untuk ra. sapi eangsa lain seperti sapi PO dan sapi austeralian commercial cross (ACC),

Selain keunggulan biologis, nilai jual sapi bali selalu meningkat setiap tahunnya serta memiliki peluang pasar yang sangat baik karena faktor masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi daging sapi bali dibandingkan bangsa sapi lainnya. Namun disamping keunggulan tersebut sapi bali memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan ini dapat menyebabkan pemerintah memerlukan energi ekstra dalam memaksimalkan peran sapi bali sebagai salah satu komoditas dalam swasembada daging. Kelemahan yang dimiliki sapi bali salah satunya adalah sangat mudah diserang oleh penyakit dan memiliki penyakit seperti Jembrana.

Penyakit Jembrana Disease Virus (JDV) muncul pertamakali di Indonesia di Kabupaten Jembrana Provinsi Bali pada tahun 1964. Penyakit Jembrana sejak beberapa tahun terakhir telah menginfeksi ternak sapi bali di Provinsi Jambi. Berdasarkan laporan Balai Veteriner Bukittinggi Kementerian Pertanian, melalui pemeriksaan laboratorium, tahun 2013 pertamakalinya penyakit Jembarana terindentifikasi di Provinsi Jambi. Pada tahun 2013 sebanyak 69,14 % dari 81 ekor sapi bali yang diperiksa positif JDV di Provinsi Jambi. Menurut informasi dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi, laporan kejadian penyakit Jembaran dari tahun 2014, 2015 dan 2016 berturut-turut adalah 28, 95 dan 18 ekor. Kejadian infeksi virus JDV diduga lebih tinggi setiap tahunnya karena tingkat prevalensi berdasarkan laporan Balai Veteriner Bukit Tinggi. Selain itu tingginya tingkat infeksi virus JDV kemungkinan besar terjadi namun tidak terdeteksi karena peternak langsung menjual atau memotong paksa ternak sapi yang menunjukkan gejala-gejala klinis.

Penyakit Jembrana merupakan penyakit yang bersifat patogen hanya pada sapi bali yang disebabkan agen Jembrana Disease Virus (JDV) dari family Retrovidae subfamily Lentivirinae. Virus Jembrana memanfaatkan enzim reverse transcriptase pada sapi bali untuk berkembangbiak disel-sel tubuh. Inkubasi/perkembangbiakan virus jembarana terjadi selama 5-12 hari. Setelah melawati masa inkubasi maka akan tampak gejala klinis. JDV menyebabkan imunodefisiensi sehingga kemampuan tubuh ternak untuk melawan penyakit akan terganggu dan lemah. Tidak hanya penyakit Jembrana, imunodefisiensi yang di sebabkan oleh JDV juga menyebabkan ternak sapi rentan peyakit lainnya seperti parasite darah, Bovine Emphemeral Fever (BEF) dan penyakit lainnya.

Gejala Klinis

Infeksi virus JDV menimbulkan gejala seperti:

  1. Demam tinggi (40o C - 42o C),
  2. Pembesaran kelenjar limfo glandula di daerah bahu, perut, lutut dan bawah telinga sehingga tampak seperti benjolan
  3. Bercak darah pada kulit akibat terjadinya hematodirosis,
  4. Pucat pada mukosa mata, mulut dan alat kelamin,
  5. Kepincangan pada salah satu atau dua kaki pada waktu yang bersamaan,

Cara Penularan

Penularan penyakit jembarana melalui 3 cara yaitu

  1. Kontak langsung dengan sapi yang telah terinfeksi penyakit,

            Penyakit Jembrana di Provinsi Jambi sangat erat kaitannya dengan perdagangan ternak. Pada umumnya sapi yang didatangkan oleh pedangan dari luar Provinsi Jambi belum melewati pemeriksaan kesehatan hingga pemeriksaan penyakit Jembrana. Hal ini kemungkinan besar menyebabkan masuknya sapi bali yang telah terinfeksi. Selain itu pada umumnya pedagang juga tidak memiliki kandang transit/isolasi, untuk memisahkan ternak dari luar sementara waktu dan langsung menggabungkan dengan sapi sehat lainnya. Hal ini kemungkinan besar menyebabkan kontak langsung.

  1. Induk bunting yang terinfeksi,

            Pada wilayah yang belum bebas Jembrana, induk carrier yang bunting kemungkinan besar dapat menyebaban penularan pada fetus. Sehingga pada saat pedet lahir maka akan menjadi carrier.

  1. Vektor

Virus dapat ditularkan oleh vektor insekta (nyamuk dan parasite kulit). Proses penularan terjadi ketika vector insekta yang telah menghisap darah sapi terinfeksi kemudian menghisap darah sapi sehat lainnya. Pada saat insekta menghisap darah sapi sehat maka virus terbawa oleh insekta kemungkinan besar menginfeksi ternak sapi yang sehat

Kerugian Peternak akibat Penyakit Jembrana

            Mortalitas yang disebabkan oleh penyakit Jembrana cukup tinggi. Hal ini disebabkan ketidak mampuan peternak memahami kondisi ternak yang tertular penyakit, sehingga seringkali ternak yang tertular tidak dapat tertolong. Selain itu seringkali kematian disebabkan karena kurangnya kesadaran peternak tentang pentingnya vaksinasi Jembrana. Pada tahun 2017 selama bulan Juli hingga Oktober di prediksi telah terjadi kematian ternak lebih dari 70 ekor disalah satu kecamatan di Kabupaten Sarolangun.

Penyakit Jembrana memunculkan ketakutan ditingkat peternak. Peternak seringkali menjual sapi yang diduga terinfeksi jembaran dengan harga sangat murah yaitu hingga tiga juta/ekor sapi dewasa. Pada bulan Juli hingga Oktober 2017 sebanyak 330 ekor lebih ternak sapi bali yang diduga terinfeksi penyakit Jembrana telah di jual dengan harga dibawah pasaran dan dipotong paksa.

Pencegahan

            Upaya pencegahan terhadap infeksi dapat dilakukan dengan melakukan pendakatan berdasarkan cara penularan penyakit. Upaya pencegahan tersebut adalah:

1. Biosekuriti

Biosekuriti diperlukan untuk mencegah masuknya ternak sapi yang telah tertular agen penyakit. Melalui tindakan ini diharapkan dapat memutus mata rantai penularan penyakit jembrana pada sapi bali dalam wilayah tertentu.

2. Pemeriksaan kesehatan

Perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan secara spesifik pada ternak sapi bali yang berasal dari dalam maupun dari luar Provinsi Jambi,

3. Vaksinasi

Vaksinasi sangat perlu dilakukan agar ternak memiliki kekebalan tubuh yang baik saat diinfeksi oleh JDV. Vaksinani Jembrana perlu dilakukan secara rutin pada tiga tahun berturut-turut untuk menekan prevalensi.

4. Menjaga kebersihan kandang

Manajemen kebersihan kandag perlu dilakukan agar tidak menarik perhatian vektor. Peternak pada umummnya melakukan pengasapan secara rutin dapat menjadi salah satu cara untuk mengusir bahkan mematikan vektor.

5. Pemberian vitamin rutin

Pemberian vitamin diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak agar tidak mudah terserang penyakit.

6. Asuransi

Pemerintah telah mengupayakan agar peternak dapat meminimalkan kerugian dalam menjalankan usaha pemeliharaan ternak. Asuransi yang di fasilitasi pemerintah dapat digunakan peternak untuk melakukan klaim terhadap ternak yang mati akibat penyakit. Melalui asuransi ini peternak dapat memperoleh penggantian sesuai dengan harga sapi dipasaran. Informasi mengenai asuransi ternak dapat diakses pada artikel Dengan Sapi Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) Peternak Tenang Memelihara Sapi.

 

 Informasi diambil dari berbagai sumber