JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Teknologi

Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan produk inovasi berbasis eucalyptus. Produk yang telah mendapatkan hak paten tersebut telah melalui uji molecular docking dan uji in vitro di laboratorium biosafety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet).

Kepala BB Litvet, NLP Indi Dharmayanti menerangkan, BB Litvet merupakan unit kerja di bawah Balitbangtan yang memiliki tugas pokok melaksanakan penelitian di bidang veteriner. BBLitvet juga ditetapkan sebagai laboratorium rujukan penyakit hewan termasuk penyakit zoonosis dan penyakit eksotik. Informasi selengkapnya silakan disimak di sini.

Beberapa hari ini kita dihebohkan dengan berita tentang Kementan yang akan memproduksi massal kalung antivirus. Terdapat beberapa hal yang harus kami luruskan dengan pemberitaan ini. Pertama Kementan adalah Lembaga pemerintahan, bukan perusahaan sehingga tidak mungkin memproduksi suatu produk. Kementan dalam hal ini adalah penghasil teknologi termasuk produk eucalyptus.

Kenapa Kementan mengurusi soal produk antivirus? 

Balitbangtan sebagai salah satu unit eselon 1 di bawah Kementan yang memiliki mandate melakukan penelitian dan pengembangan, termasuk meneliti potensi eucalyptus yang merupakan salah satu jenis tanaman atsiri. Informasi selengkapnya silakan disimak di sini.

Tungro merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi ganda dari 2 jenis virus yang berlainan. Kedua virus yang dimaksud adalah Rice Tungro Spherical Virus (RTSV) dan Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV). Sebenarnya, penyakit ini bisa ditularkan oleh beberapa jenis hewan serangga, tetapi yang paling cepat menularkan dan menyebarkannya adalah spesies wereng hijau. Penyebaran tungro sangat dipengaruhi oleh populasi wereng hijau. Dengan kata lain, semakin padat dan luas populasi wereng hijau, maka semakin luas penyebaran penyakitnya. Jadi, penyakit tungro dan wereng hijau memang berkesinambungan. Untuk bisa mengatasi penyakitnya, mau tidak mau harus membasmi wereng hijau. Informasi selengkapya silakan disimak di sini.

Larikan Gogo (Largo) Super adalah teknologi budidaya terpadu padi lahan kering (gogo) berbasis tanam jajar legowo 2:1 dengan menerapkan beragam komponen teknologi hasil Balitbangtan dan mekanisasi pertanian. Komponen teknologi yang diterapkan adalah sebagai berikut:

  1. Varietas Unggul Baru (VUB) padi gogo dengan potensi hasil tinggi: Inpago 8, 9, 10, 11,12, Rindang 1, Rindang 2, Situ Patenggang, Jatiluhur dan Batutegi
  2. Aplikasi biodekomposer Agrodeco saat pengolahan tanah
  3. Aplikasi pupuk hayati (seed treatment) Agrice-plus pada benih sebelum semai
  4. Aplikasi pupuk cair biosilika BioSinta pada saat pertanaman
  5. Pemupukan berimbang berdasarkan status hara tanah (penggunaan PUTK)
  6. Pengendalian OPT dengan pestisida nabati Bioprotector dan pestisida anorganik harus berdasarkan ambang kendali
  7. Penggunaan alsintan (atabela dan combine harvester)
  8. Untuk lahan kering masam di Jambi ditambah penggunaan Batuan fosfat alam yang dapat meningkatkan efisiensi pupuk fosfat dan efek residunya dapat memperbaiki hara tanah masam.

Pemilihan Lokasi: Pengembangan sistem produksi padi gogo dilakukan di lokasi di dataran rendah (lahan terbuka dan tegakan). Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan kriteria curah hujan menurut klasifikasi Oldeman (1975). Padi gogo dapat tumbuh dengan baik pada wilayah dengan rata-rata curah hujan ≥ 100 mm/bulan (di dataran rendah 400 m dpl). Padi gogo dapat dibudidayakan secara mono kultur atau tumpang sari dengan tanaman semusim maupun di antara tanaman tahunan dengan intensitas naungan maksimum 50 %. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Informasi selengkapnya silakan disimak disini.

Tanaman tebu merupakan salah satu komoditas unggulan nasional setelah padi, jagung, kedelai dan ternak. Salah satu penyebab penurunan produktivitas tebu adalah permasalahan pada penggunaan bibit, karena bibit tebu yang digunakan petani kurang bermutu (Iskandar, 2005). Di daerah pulau Jawa, pengembangan tanaman tebu dengan penggunaan benih unggul tebu sistem bud chips terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program perluasan areal tanaman tebu baru. Keunggulan benih bud chips adalah benih lebih seragam, lebih sehat, daya tumbuh di lapang lebih baik dan ketersediaan bisa tepat waktu.

Di Kabupaten Kerinci pembibitan sistem bud chips belum bisa dilaksanakan karena membutuhkan sarana dan prasarana (alat bud chipper, hot water treatment, tray, kawat penyangga benih, bak plastik) serta pemeliharaan yang intensif. Idealnya pembibitan sistem bud chips dilaksanakan pada kebun pembibitan yang berdekatan dengan perkantoran yang sudah tersedia sarana pengairan sprinkler dan listrik. 

Biasanya pengembangan atau perluasan areal tanaman tebu di tingkat petani hanya menggunakan anakan yang tumbuh disekitar tanaman induk. Namun untuk pengembangan secara luas dan skala yang besar tidak memungkin karena membutuhkan tenaga dan anakan yang banyak serta pertumbuhannya tidak seragam. Untuk program pengembangan dan perluasan tanaman tebu sudah menggunakan anakan sistem bagal mata dua dari KBD Disbunnak yang ditanam langsung dilapangan. Informasi selanjutnya silahkan klik disini.

Subcategories