JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

KOTA JAMBI - Duku Kumpeh dan duku Muaro Panco merupakan varietas unggul nasional yang saat ini populasinya hampir punah. Hal ini memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak dan stakeholder terkait, demi menyelamatkan plasma nutfah duku tersebut. Balitbangda Provinsi Jambi memprakarsai pelaksanaan Focus Grup Discussion (FGD) Pengelolaan Penyakit Mati Meranggas Duku di Provinsi Jambi pada hari Kamis, 11 Agustus 2022, di Aula Balitbangda Provinsi Jambi.

FGD dipimpin oleh Plt. Kabid IPTEK dan Kerjasama Suarman, S.E., M.A.P. FGD dihadiri oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Jambi, Camat Renah Pembarap Kabupaten Merangin, Camat Kumpeh Ulu dan Camat Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi, Kepala BPP dan PPL Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin, Kepala Desa Kota Karang, Sakean, dan Sungai Terap Kecamatan Ulu Kabupaten Muaro Jambi, dan Kepala Desa Muaro Panco Barat Kabupaten Merangin. 

Kegiatan diawali dengan penyampaian hasil penelitian yang telah dilakukan oleh tim peneliti Weni Lestari, S.P., M,Si., dari Balitbangda Provinsi Jambi, Dr. Desi Hernita dari BPTP Jambi, Dr. Islah Hayati dari Universitas Jambi. Selanjutnya dilakukan diskusi untuk menyempurnakan data, mendapatkan masukan dan strategi yang akan dilakukan dalam pengelolaan penyakit mati meranggas duku di Provinsi Jambi.

Berdasarkan hasil FGD diketahui bahwa upaya yang telah dilakukan oleh petani duku Kumpeh dalam mencegah/mengatasi serangan penyakit mati meranggas antara lain: aplikasi bubur bordo, fungisida, insektisida, pemangkasan dan membakar ranting/dahan yang sakit, pemupukan serta membentuk forum penyelamat duku Kumpeh. Tetapi usaha yang dilakukan tersebut belum dapat mengatasi penyakit mati meranggas duku, tanaman duku yang mati terus bertambah.

Demikian pula halnya dengan duku Muaro Panco, petani juga telah melakukan pemangkasan dan membakar ranting/dahan yang terserang, aplikasi bubur bordo, dan pemupukan, juga belum berhasil mengatasi penyakit duku tersebut.  Bahkan untuk Desa Muaro Panco Barat, Kabupaten Merangin saat ini 99% duku telah mati dan untuk Desa Sakean Kecamatan Kumpeh Ulu, 70% duku di wilayah tersebut telah mati.

Potensi kehilangan hasil dari tanaman duku berdasarkan data yang diolah dari hasil survey untuk duku Kumpeh sebesar 76 juta rupiah dan untuk duku Muaro Panco sebesar 284 juta rupiah per musim panen. Jika diasumsikan serangan penyakit dapat menurunkan produksi 10% setahun, maka 4-5 tahun kedepan kita tidak dapat menjumpai pohon dan buah duku di 2 lokasi tersebut.

Beberapa kebijakan yang akan dilakukan dalam upaya mencegah punahnya salah satu plasma nutfah khas Jambi yaitu:

  1. Dinas terkait menyiapkan/menyediakan bibit duku sehat yang sesuai dengan kondisi alam,
  2. Membentuk forum bersama (DPRD, Dinas terkait, Masyarakat) dan ekspose kegiatan,
  3. Sosialisasi yang gencar oleh instansi teknis yang berwenang dan menyampaikan melalui media elektronik/cetak mengenai pentingnya upaya pengendalian penyakit mati meranggas pada tanaman duku agar penurunan populasinya dapat ditekan sekecil mungkin.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Melakukan replanting tanaman duku, sambil ditumpang sarikan dengan tanaman muda, sehingga petani masih dapat mendapatkan hasil dari tanaman lain menjelang pohon duku berbuah,
  2. Pemberian bantuan biaya penebangan atau pembongkaran tanaman duku yang terserang penyakit per batang,
  3. Perlu komitmen tegas, sistematis, terarah dari pihak pemangku kepentingan guna mengendalikan dan mencegah terus berlanjutnya penyebaran penyakit kanker batang pada tanaman duku,
  4. Dinas TPHP Provinsi Jambi menetapkan pengembangan kawasan duku sehingga lebih terfokus di satu kawasan (lahan demplot),
  5. Dana tanggap darurat sebagai respon adanya penyakit duku,
  6. Memberdayakan masyarakat untuk usaha pembibitan duku,
  7. Payung hukum desa menggunakan dana desa untuk kegiatan prioritas duku,
  8. Mendorong adanya pelatihan membuat bibit sambung yang dapat mempercepat tanaman duku berbuah,
  9. Pengembangan kawasan dilakukan bertahap, termasuk juga pemusnahan dan bantuan,
  10. Melakukan doa bersama agar tanaman duku terhindar dari penyakit (doa barda),
  11. Untuk pencegahan, harus menanam bibit duku yang benar-benar sehat,
  12. Tanaman duku yang terserang dengan gejala awal dapat dirawat dengan fungisida efektif yang bersifat sistemik (bahan aktif fosfit) yang diaplikasikan sebelum tanaman berbunga atau pengolesan pada batang,
  13. Jika kebun duku terserang berat, sebaiknya dilakukan eradikasi dan pembongkaran tanaman duku,
  14. Kebun duku harus mempunyai drainase yang baik, tanah jangan terlalu basah saat musim hujan dan jangan menggenangi permukaan tanah sampai mengenai pangkal batang. (DH)