JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SAROLANGUN - Dengan akan berakhirnya TA 2021, maka rangkaian kegiatan Ayam KUB di Sarolangun juga akan selesai. Semua aktivitas kegiatan perlu ditutup secara resmi dan semua administrasi kegiatan diselesaikan. Terkait dengan hal tersebut maka pada diadakan pertemuan akhir pada Rabu (15/12). Pertemuan dimaksudkan untuk mengevaluasi dan membahas tentang pelaksanaan kegiatan, prospek pengembangan ayam kampung pedaging di Sarolangun dan peran kelompok dalam pengembangan usaha. Peserta pertemuan sebanyak 20 orang terdiri dari unsur Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun (Sekretaris Dinas dan Kasi Produksi Ternak), peternak kooperator, peternak non kooperator dan peneliti BPTP Jambi.

Sekretaris Dinas Asnawi dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada BPTP atas pelaksanaan kegiatan dan pendampingan intensif yang telah dilakukan. Disamping itu beliau juga mengemukakan perlunya dipikirkan pengolahan hasil samping dari peternakan unggas seperti pupuk kandang dan bulu ayam, guna meningkatkan pendapatan dalam usaha. Selanjutnya dimintakan masukan dari setiap peternak kooperator perihal pelaksanaan kegiatan, mengenai persepsi terhadap pengembangan usaha ayam kampung dan target penjualan.

Peternak kooperator menyampaikan ucapan terima kasih dan banyaknya manfaat yang diperoleh dari adanya kegiatan, namun beberapa diantaranya juga menyampaikan keengganan untuk menjual ayam dan ingin menjadikannya indukan karena bibitnya bagus serta sayang untuk dijual. Menanggapi hal tersebut, peneliti BPTP menyampaikan beberapa hal terkait tipologi pemeliharaan ternak unggas, karakteristik dan risiko usaha perunggasan serta peluang pasar ayam kampung pedaging.

Selanjutnya peserta diajak untuk mengunjungi beberapa bagian dari lokasi kegiatan seperti kandang pembesaran, kandang inti, pembibitan indigofera dan ruang prosesing pakan. Seremonial panen dilakukan di kandang pembesaran dengan penimbangan sampel ayam oleh Sekdin. Saat ini pemeliharaan sudah berlangsung lebih dari 10 minggu dengan bobot rata-rata 1,16 kg. Meski secara bertahap panen juga telah dilakukan pada bobot 0,8 kg, namun karena permintaan pasar Sarolangun yang cukup besar terhadap bobot ayam 1 kiloan, maka penjualan lebih banyak pada kisaran bobot ini.

Rangkaian pertemuan ditutup dengan doá bersama yang dipimpin oleh M. Ridho salah seorang peternak kooperator. Selanjutnya ramah tamah dan perbincangan informal. Dalam perbincangan terungkap adanya perubahan paradigma dari beberapa peternak setelah penjelasan di pertemuan. Beberapa peternak menyampaikan keinginannya untuk segera melakukan penjualan ayam dan menyanggupi untuk memesan DOC sendiri guna melanjutkan pemeliharaan siklus berikutnya. Semoga usaha produksi ayam kampung (KUB) pedaging di kelompok ini semakin berkembang, menjadi usaha alternatif yang menjanjikan dan menopang perekonomian keluarga.