JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

TEBO - Sawit merupakan komoditas utama tanaman perkebunan di Provinsi Jambi. Pertanaman sawit saat ini sebagian besar dalam kondisi kurang produktif, rusak dan produksi tidak optimal. Replanting merupakan upaya untuk mengatasi kondisi pertanaman sawit ini. Replanting sawit lebih dari 18.000 ha akan dilaksanakan di Provinsi Jambi.  Kendala yang akan dihadapi dalam upaya ini sawit baru akan menghasilkan setelah umur 3 tahun, sehingga dalam masa tersebut apa yang akan diupayakan oleh petani untuk bisa mendapatkan hasil seperti sebelum program replanting.

Menjawab kendala tersebut, upaya yang dapat dilakukan melalui pola tanam tumpangsari (atau berbagai tanaman dalam satu lokasi/lahan). Melalui pemanfaatan tanaman sela seperti cabai, semangka, kedelai di antara sawit muda. Petani diharapkan dapat selalu mendapatkan hasil dari usaha taninya sampai sawit menghasilkan. Pola tanam sela/lorong yang dilakukan oleh Petani Parmanto, melalui sistem tanam terpadu, yaitu setelah pengolahan lahan, penggunaan mulsa, dan irigasi drip maka dilakukan pola tanam bertahap.

Tanaman pertama yang ditanam setelah mulsa dilubangi adalah semangka berumur pendek, kemudian dilanjutkan cabai. Sehingga, saat semangka panen, cabai akan memasuki fase generatif dan pembungaan serta tidak berkompetisi hara dengan semangka yang telah dipanen. Selanjutnya kedelai ditanam dalam lorong yang lebih banyak barisannya dan dominan. Kemudian saat cabai mulai panen, kedelai memasuki fase vegetatif dan awal fase generatif.

Pola tanam seperti dapat dikaji lebih lanjut oleh BPTP Balitbangtan Jambi melalui aplikasi teknologi. Kepala BPTP Jambi Dr. Salwati, S.P., M.Si .juga menyampaikan bahwa sebelumnya BPTP Jambi telah mengkaji pola tanam tumpangsari padi gogo dan jagung di program replanting sawit Sungai Bahar, Muaro Jambi. Semoga pola tanam lorong dan tumpangsari menjadi solusi untuk memenuhi pendapatan petani sebelum beralih ke sawit yang mulai menghasilkan pada tahun ke-3. (LI)