JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

KOTA JAMBI - Peneliti BPTP Jambi (Jon Hendri SP., M.Si) menyampaikan bahasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kayu Manis Cinnamomum burmanii sebagai Bahan Baku.  Melalui kegiatan Workshop yang diselenggarakan Penabulu Foundation & KPHP Kerinci Unit 1 Rabu, 30 September 2020. Selaku konseptor SNI Kayu manis 8891:2020 dijelaskan bagaimana proses SNI di buat dan materi penting dalam SNI ini adalah adanya pembagian kelas mutu kayu manis menjadi kelas Mutu I, II dan III sehingga dalam sistem perdagangan SNI ini bisa menjadi acuan bagi Petani, pedagang bahkan eksportir kayu manis. Makalah ini disampaikan pada kegiatan “Workshop peningkatan jaminan mutu penanganan rantai pasok kayu manis” secara online yang dihadiri oleh pemateri dan peserta dari pemangku kepentingan seperti pemerintah, eksportir kayu manis, pengusaha/pedagang kayu manis, dan kelompok tani kayu manis. Workshop  ini dilaksanakan oleh Yayasan Penabulu dan KPHP kerinci yang merupakan rangkaian dari penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) kayu manis.

Acara dibuka oleh Pejabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kerinci Asraft , S.Pt, M.Si, dilanjutkan sambutan direktur Yayasan Pena Bulu, kemudian materi dari Kepala dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kerinci tentang Potensi pengembangan kayu manis Kerinci, juga ada pembicara dari Kepala KPHP (Neneng Susanti, M.Si) Dinas Kehutanan  Provinsi Jambi yang membahas Standar Operasional Prosedur (SOP) Teknik budidaya kayu manis berbasis Sustainable Agroforestry Practice (SAP) dan Penanganan Mutu Kayu Manis Berbasis Good Handling Practice (GHP), pembahasan yang sangat menarik juga disampaikan oleh mahasiswa doctoral dari Ghent University (Sidi Rana Menggala) tentang bagaimana Peningkatan Jaminan Mutu Penanganan Rantai Pasok Kayu Manis, ini penting mengingat kayu manis merupakan komoditi ekspor dari Indonesia dan harus dijamin keberlansungannya.

Kayu manis Indonesia merupakan salah satu tanaman rempah yang terkenal di dunia, serta menjadi komoditas favorit di Eropa Barat. Indonesia merupakan negara ekspor kayu manis nomor satu dengan memasok 85 persen kayu manis di pasar dunia. Kayu manis yang di ekspor Indonesia 65 persen merupakan kayu manis dari kabupaten Kerinci Jambi. Produktivitas kayu manis di Kabupaten Kerinci naik disetiap tahunnya hingga pada tahun 2018 telah mencapai 40.762 ha dengan produksi mencapai 53.249 ton/tahun.

Konsumen di pasar global sangat memperhitungkan kualitas produk, terutama produk pertanian dan perkebunan berdasarkan standar keamanan pangan (HACCP - Hazard Analysis and Critical Control Points). Kayu manis dan jenis rempah lain dari Indonesia seringkali ternotifikasi mengandung jamur dan residu herbisida. Dampak dari notifikasi tersebut tentu berimbas pada petani dan pedagang kecil (smallholder), karena dugaan penanganan pasca-panen yang tidak memadai.

Dengan dilaksanakannya workshop ini diharapkan semua dokumen yang telah dihasilkan berupa SOP kayu manis dari tingkat petani, pedagang, pengumpul, dan eksportir serta berpedoman kepada SNI kayu manis 8891:2020 dapat dilaksanakan sehingga mutu kayu manis indonesia dapat terjaga dan harga bisa meningkat sehingga perekonomian petani juga biasa meningkat. (DJH)