JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

MUARO JAMBI - Kombinasi antara terbitnya SK untuk perubahan status Visitor Plot BPTP Jambi menjadi Kebun Percobaan (KP) tahun lalu ditambah dengan mulainya tahun kegiatan 2019, menjadi agenda utama pelaksanaan rapat manajemen BPTP Jambi (8/1) di KP Sei Tiga, Muaro Jambi. Era Visitor Plot telah berakhir sehingga dibutuhkan pengkayaan poin-poin dalam pengelolaan KP menuju KP yang mandiri.

“KP Mandiri artinya bagaimana mengusahakan KP ini bisa membiayai diri sendiri serta dengan dibangunnya gedung laboratorium terpadu dan hadirnya peralatan laboratorium baru untuk analisis tanah dan tanaman bagaimana menjadikan KP sebagai pusat Pengujian Inovasi Pertanian,” tutur Dr. Rustam dalam pembukaan rapat.

Supaya mendapat gambaran kondisi terkini, Dr. Rustam mengajak peserta rapat untuk mengelilingi KP Sei Tiga.

KP Sei Tiga memiliki fasilitas gudang benih perkebunan, rak penyimpan benih yang dilengkapi dengan AC, gudang benih hortikultura, rumah bibit perkebunan, ruang prosesing benih, ruang administrasi, beberapa peralatan perkantoran. Selain itu, terdapat penambahan bangunan berupa kandang sapi, rumah kaca, rumah koleksi SDG, KBI, dan laboratorium terpadu.

Pembahasan teknis secara mendetail diutarakan oleh masing-masing peserta rapat yang secara garis besar sepakat bahwa bangunan laboratorium, gudang hortikultura, gudang perkebunan perlu diisi dan dibenahi. Pembenahan untuk tanaman-tanaman perkebunan dapat minta kepada peneliti BPTP Jambi yang memiliki kegiatan pengkajian tanaman perkebunan tahun anggaran 2019. Demikian halnya dengan pemanfaatan gudang hortikultura, gudang benih UPBS, rumah kaca, rumah koleksi SDG, dan kandang sapi.

Dr. Rustam menghimbau kepada pengkaji yang memiliki kegiatan pengkajian yang bersinggungan dengan aktivitas di KP agar memfungsikan fasilitas dan asset di KP seoptimal mungkin yang nantinya menjadi modal untuk melakukan pengelolaan KP. KP merupakan landasan dalam melakukan penelitian sehingga kalau KP lebih banyak difungsikan bukan untuk hal tersebut, maka perlu dilakukan dievaluasi. KP juga perlu dibuat zonasi untuk fungsi riset, produksi, edukasi, maupun rekreasi.