JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

BPTP Balitbangtan Jambi kenalkan teknik roguing pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penangkaran Benih Kedelai. Kegiatan dilaksanakan pada lahan demplot kegiatan Kajian Teknologi Budidaya Kedelai di Lahan Perkebunan Karet di Desa Dusun Baru, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo yang diikuti oleh 20 orang petani dan calon petani penangkar benih kedelai, petugas lapang, petugas sertifikasi benih dan peneliti BPTP Jambi. Kegiatan Bimtek ini merupakan bagian dari output kegiatan KP4S tahun 2018.

“Kegiatan ini berbeda dengan kegiatan penangkaran benih kedelai sebelumnya yang sudah didiseminasikan melalui kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber maupun Sekolah Lapang Mandiri Benih, karena dilaksanakan dengan tujuan lain untuk peningkatan produktivitas lahan diantara tanaman perkebunan yang belum menghasilkan sekaligus mengenalkan varietas kedelai Dena-1 yang memiliki kemampuan toleran terhadap naungan”, ungkap Ir. Adri, MS selaku penanggung jawab kegiatan tersebut.

Saat praktik pelaksanaan roguing kedelai yang dibimbing oleh Petugas Sertifikasi Benih dari UPTD BPSPT Provinsi Jambi (Sudirman) menekankan pentingnya teknik roguing pada perbenihan  kedelai yang merupakan tahapan seleksi tanaman dalam menghasilkan benih yang murni nantinya.

Roguing merupakan pemeriksaan dan pembuangan tanaman-tanaman yang memiliki ciri berbeda yang dilakukan di lahan produksi benih dengan tujuan untuk menjaga kemurnian varietas yang diproduksi. Roguing dilaksanakan terhadap tanaman spesies lain, tanaman varietas lain, tanaman tipe simpang dan gulma berbahaya dengan tujuan menjaga kemurnian benih sehingga persyaratan benih dapat terpenuhi.

Dalam produksi benih bersertifikat, roguing diikuti dengan pemeriksaan lapangan oleh petugas sertifikasi benih. Pemeriksaan lapangan tersebut dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan dalam membedakan tanaman-tanaman yang mempunyai ciri yang berbeda dengan tanaman yang sedang diproduksi.

Perlu juga diketahui:

  1. Karakteristik atau deskripsi varietas tanaman yang sedang diproduksi;
  2. Karakteristik tanaman tipe simpang;
  3. Ketidaknormalan tanaman termasuk stres nutrisi, suhu dan kelembaban tanah;
  4. Gulma berbahaya yang lazim tumbuh;
  5. Tanaman lain yang sering ditemukan;
  6. Penyakit tanaman;
  7. Pengambilan contoh dan cara perhitungan yang berlaku untuk memenuhi persyaratan sertifikasi.

Tahapan melakukan roguing adalah sebagai berikut:

  1. Mengenali deskripsi kultivar yang diproduksi dengan teliti;
  2. Membawa kantong untuk tempat rogues;
  3. Berjalan perlahan-lahan di lahan produksi (tidak lebih dari 3 km/jam);
  4. Berjalan diantara barisan tanaman secara sistematis;
  5. Mengamati tanaman secara teliti dengan jarak pandang selebar 2 meter;
  6. Cara berjalan lebih baik membelakangi sinar matahari;
  7. Roguing dilakukan sebelum matahari bersinar terik;
  8. Bila ditemukan rogues, maka seluruh bagian rogues yang dicabut dicatat;
  9. Jumlah dan tipe tanaman rogues dicabut dan dicatat;
  10. Tanaman rogues yang telah dicabut dibuang dan dibakar;
  11. Gulma yang terinfeksi penyakit dicabut, ditampung di wadah atau kantung plastik dan dibakar;
  12. Untuk tanaman menyerbuk silang roguing dilakukan sebelum pembungaan atau pada saat berbunga tetapi serbuk sari belum matang.

Petani dan calon petani penangkar sangat antusias saat pelaksanaan Bimtek dan mengetahui jenis-jenis tanaman kedelai yang tampak menyimpang secara morfologi dari varietas yang akan menjadi tujuan produksi. “Tindakan yang harus dilakukan adalah dengan membuang tanaman-tanaman yang menyimpang tersebut” ujar Pak Arsi selaku petani kooperator dan pemilik lahan demplot dan beberapa petani lainnya. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa kegiatan bimtek meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, sekaligus sangat membantu petugas sertifikasi benih yang jumlahnya terbatas dalam tugas pemeriksaan lapang.

Peluang penerapan teknologi budidaya kedelai pada lahan perkebunan belum menghasilkan sangat besar dan sejalan dengan program Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, serta Dinas Perkebunan Kabupaten Tebo. Pada tahun 2018 dan 2019 program pengembangan kedelai Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tebo seluas 3.053 ha berada pada lahan perkebunan. Kemudian Dinas Perkebunan juga melakukan program replanting sawit seluas 750 ha dan tanaman karet seluas 200 ha.