JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Upaya peningkatan produksi PAJALE (Padi Jagung Kedele) salah satunya dengan menerapkan meningkatkan Indeks Pertanaman dari seratus meningkat menjadi dua ratus atau dua kali tanam. Namun salah satu persoalan serius yang dihadapi adalah ketersediaan sumber daya air. Melalui penanaman dengan waktu tanam yang tepat dan musim yang sesuai dengan memperhatikan kebutuhan air tanaman Pajale maka keberhasilan berupa produktivitas yang tinggi akan dapat dicapai.

Peluang peningkatan Indeks Pertanaman (IP) di Provinsi Jambi masih terbuka luas, di mana ketersediaan lahan yang masih ada untuk Pembukaan Areal Tanam Baru (PATB) atau melalui peningkatan IP 0 menjadi IP 100.  Peluang tersebut dapat dilakukan di Desa Pekan Jumat, Kecamatan Muko –muko Bathin VII, Kabupaten Bungo. Kabupaten Bungo dipilih sebagai lokasi kajian peningkatan IP karena merupakan kabupaten yang memiliki lahan kering yang luas yang cocok untuk ditanami dengan padi ladang atau padi gogo, tapi IP masih 0 dan 100. Total luas lahan kering di Kabupaten Bungo seluas 8.036,34 ha. Koordinasi yang dilaksanakan pada Tanggal 10 Juli 2018 dengan Kabid Tanaman Pangan “ Abdul Majid., S.Sos. M.Si” Dinas Tanaman Pangan, Hortkultura dan Perkebunan Kabupaten Bungo  menyarankan kegiatan Dukungan Inovasi Pertanian untuk Meningkatkan IP padi di lahan kering tahun 2018 oleh BPTP Jambi dilakukan di lokasi tersebut, tepatnya di dalam luasan lebih dari 150 ha, dengan luas demplot penerapan inovasi seluas 5 ha. Lokasi penerapan inovasi teknologi ini merupakan lokasi yang sangat berpotensi untuk ditingkatkan IP dari 0 menjadi 100. Lokasi ini juga merupakan lokasi yang memiliki potensi sumber daya air.  Kajian di lokasi demplot akan dilaksanakan pada Musim Tanam (MT) III pada Musim Kemarau (MK) tahun 2018.

Lokasi tersebut setelah dilakukan peninjauan langsung ke lapangan merupakan lokasi Pengembangan Areal Tanam Baru (PATB).  Lokasi yang semula ditumbuhi oleh semak belukar dibuka untuk pengembangan tanaman baru, dengan tanaman padi ladang (padi gogo). Lokasi ini sangat berpotensi, karena di sekitar lokasi terdapat sumber daya air berupa aliran air bawah tanah, yang selalu mengalir di saat musim kemarau.  Penentuan lokasi kegiatan dilanjutkan langsung dengan penentuan calon petani kooperator. Petani yang terlibat sebagai petani kooperator berjumlah 10 orang, yang tergabung dalam kelompok tani Lereng Bukit, dengan Penyuluh Lapang Pendamping “Marjohan”.

Kelompok tani ini memiliki kemauan dan keseriusan dalam menerapkan inovasi teknologi untuk meningkatkan IP dan produksi padi seperti menerapkan larikan legowo (Largo) super, dan penggunaan VUB umur genjah berpotensi produksi tinggi.

Melalui penerapan dukungan inovasi pertanian, seperti penggunaan varietas unggul baru (VUB) untuk lahan kering, dalam hal ini varietas berumur genjah (Inpago 11), penanaman langsung, sehingga diharapkan lokasi yang akan dipilih ini dapat terjadi peningkatan IP. Selain penggunaan varietas genjah cara lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan IP adalah dengan membuat persemaian culikan, yaitu melakukan penyemaian di luar lahan/di dalam lahan dengan memanen sebagian untuk lahan persemaian (minimal 7 hari) sebelum di lakukan pemanenan. Pengunaan biodecomposer yang dapat mempercepat pelapukan jerami juga penting dilakukan sehingga dapat mempercepat olah tanah sampai siap tanam.

Upaya untuk mendorong petani dalam menerapkan inovasi yang dikenalkan misal melalui program UPSUS masih perlu terus dilakukan. Kegiatan pembelajaran, fasilitasi alat, percontohan inovasi dan pendampingan oleh petugas lapangan yang lebih intensif diyakini dapat mempercepat penerimaan inovasi teknologi oleh petani. Sinergisme antara lembaga penelitian dan pengembangan, Dinas Pertanian dan Lembaga penyuluhan dalam mengembangkan inovasi pertanian di lapangan lambat laun akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan.