JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

TEBO - Setelah pengawalan pengolahan tanah, tanam, sampai pemeliharaan usai, agenda kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber Kedelai 38 Ton SS di Dusun Baru, Kecamatan VII Koto, Kab. Tebo selanjutnya adalah panen dan prosessing sampai benih siap didistribusikan ke petani (14 - 16 Mei 2018).

Varietas yang ditanam dalam kegiatan UPBS Kedelai Tahun 2018 adalah Anjasmoro. Hal inipun sejalan dengan preferensi petani. Rahma, seorang anggota KT. Harapan Mulya mengatakan bahwa, “Kami lebih suka menanam kacang kuning yang Anjasmoro karena polongnya tidak mudah pecah dan tanamannya tahan rebah.” Tidak salah memang, Anjasmoro adalah varietas yang dilepas tahun 2001 yang dikenal sebagai varietas yang moderat terhadap penyakit karat daun dan tahan rebah.

Dari luasan 32 ha telah dilakukan pemanenan seluas 26 hektar. Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 85 hari dengan ciri-ciri sebagian besar daun sudah menguning, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna agak coklat dan gundul. Pemanenan dilakukan menggunakan sabit/arit yang cukup tajam agar tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan sehingga pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat dan dapat mengurangi jumlah buah yang rontok.

Pengeringan dilakukan dengan menggunakan sinar matahari yaitu dengan menyusun brangkasan di atas rak-rak yang dialasi terpal dan bisa ditutup dengan terpal yang dibuat sedemikian rupa selama 2-3 hari. Perontokan/pembijian menggunakan threser. Pengeringan biji dilakukan selama 2-3 hari hingga kadar air mencapai 10%. Hasil rata-rata ubinan 1,5 ton/hektar biji kering.

“Capaian 1,5 ton per hektar itu sangat bagus sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan benih di desa bahkan kabupaten di sekitar Dusun baru, Kabupaten Tebo,” ujar Ir. Yardha (Peneliti BPTP Balitbangtan Jambi). Pendampingan dari tim BPTP Balitbangtan Jambi dalam kegiatan UPBS Kedelai juga meliputi prosesing benih.

“Benih hasil panen ini akan ditanam setelah lebaran, untuk itu sangat perlu menjaga mutu fisik dan genetik. Biji  kedelai  yang  disimpan  lama  kadar  airnya  dapat  meningkat  melebihi kadar air awal. Kondisi ini disukai hama bubuk kedelai Bluchus sp,” tambah Ratna Rubiana, S.P., M.Si. (Peneliti BPTP Balitbangtan Jambi).