JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

BUNGO - Beberapa wilayah sentral peternakan di Provinsi Jambi masih melakukan pemeliharaan ternak dengan sistem kawin alam (INKA). Pada saat ini, umumnya di wilayah INKA telah mengalami penurunan jumlah induk dan pejantan berkualitas yang disebabkan oleh inbreeding sehingga berakibat pada penurunan kualitas ternak yang ditunjukkan pada sapi usia dewasa (18 bulan) tinggi badan dibawah 1 m dan penundaan dewasa kelamin. Hal ini yang menyebabkan rendahnya standar harga jual ternak di wilayah tersebut (7 juta/ekor induk dewasa).

Memperkenalkan usaha ternak dengan sistem kawin inseminasi buatan (IB) pada pemeliharaan yang menggunakan INKA yang dikenal dengan introduksi, merupakan salah satu tujuan kegiatan SIWAB tahun 2018. Introduksi memiliki tujuan memperbaiki kualitas ternak dengan menggunakan semen berkualitas dan terseleksi melalui teknologi IB. Target pelaksanaan intorduksi IB yaitu sentra pemeliharaan ternak sistem INKA yang dikelola dengan manajemen reproduksi yang tidak tepat. 

Bungo yang merupakan kabupaten padat populasi ternak sapi di Provinsi Jambi, yang memiliki beberapa kecamatan dengan pemeliharaan ternak sistem INKA. Kecamatan Tanah Sepenggal dan Tanah Sepenggal Lintas menjadi areal target pelaksanaan introduksi kegiatan siwab karena memiliki populasi yang tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Kegiatan introduksi dengan fasilitas teknis sinkronisasi telah dilaksanakan oleh BPTU Padang Mengatas, Balai Veteriner Bukittinggi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bungo dan BPTP Balitbangtan Jambi pada tanggal 24-29 April lalu. Kegiatan yang dilakukan berupa pemeriksaan kesehatan, kondisi reproduksi, treatment suportif, sinkronisasi dan IB.

Pelaksanaan kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 200 peternak dengan melibatkan 410 ekor sapi induk betina dewasa. Pada pemeriksaan reproduksi didiagnosa sebanyak 122 ekor induk bunting, 10 ekor induk mengalami gangguan reproduksi, 11 ekor induk pada fase estrus dan 55 ekor induk memiliki folikel. Dari hasil pemeriksaan tersebut maka dilakukan treatment suportif pada induk bunting dan yang mengalami gangguan reproduksi, tindakan IB pada induk fase estrus dan pemberian hormon (sinkronisasi) untuk mempercepat terjadinya fase estrus pada induk yang memiliki folikel matang. Pada induk yang disinkronisasi akan dilakukan IB setelah 3 kali 24 jam pemberian hormon. Melalui pemeriksaan reproduksi juga diperoleh informasi sebanyak 212 induk memiliki organ reproduksi normal dan diberikan tindakan suportif.

Melalui kegiatan introduksi diharapkan akan terjadi perbaikan kualitas ternak dan meningkatkan harga jual ternak diwaktu yang akan datang.