JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Di Indonesia kelapa sawit merupakan salah satu komoditas primadona ekspor di sektor nonmigas. Pada tahun 2016 luas areal kelapa sawit adalah 11,8 juta Ha dengan produksi mencapai 35 juta ton CPO dan total ekspor mencapai 27 juta ton. Kelapa sawit umumnya ditanam dilahan masam yang memiliki keterbatasan tingkat kesuburan tanah. Lahan kering masam memiliki permasalahan utama dengan ketersediaan fosfat (P) dalam tanah. Pupuk P yang diberikan dalam bentuk cepat tersedia akan segera diserap oleh Fe dan Al yang mendominasi tanah masam sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman, sehingga diperlukan pupuk P dalam bentuk lepas lambat namun sangat reaktif seperti reaktif fosfat alam dari Morocco. Untuk mewadahi diseminasi pengelolaan lahan kering melalui aplikasi fosfat alam reaktif Morocco sebagai alternatif pupuk fosfat lainnya maka dilaksanakan kegiatan Temu Lapang Peningkatan Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Melalui Aplikasi Langsung Fosfat Alam Reaktif Morocco pada Rabu (13/12) di Afdeling 3 Unit Usaha Bunut PT Perkebunan Usaha VI Kecamatan Bahar Utara Muaro Jambi. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Badan Litbang Pertanian (Balittanah) dengan OCP. S.A. Hadir dalam kegiatan Perwakilan Kantor Direksi PTPN VI Manajer Kebun Unit Usaha Bunut, OCP. S.A. Singapore, Anggota DPRD Tk. 2 Muaro Jambi, Kepala Balittanah, Kepala BPTP Balitbangtan Jambi, Camat Bahar Utara, Perwakilan Sime Darby Malaysia, Universiti Putra Malaysia, Perwakilan PT. Agri Hikay, Perwakilan PT. Astra Agro Lestari dan petani plasma.

Dijelaskan oleh manajer Kebun Unit Usaha Bunut Zulkarnain Harianja, PTPN VI yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit telah bekerjasama melakukan penelitian dengan Balittanah dalam pengembangan fosfat alam pada lahan perkebunan kelapa sawit. Dalam kurun waktu 8,5 bulan pada perlakuan pemberian dosis 3 kg per pohon pupuk Rock Phosphate (RP) menunjukkan peningkatan berat janjang rata-rata sebesar 29-30 %. Zulkarnain berharap agar kedepan ada hasil yang lebih baik dengan waktu pengamatan yang lebih rasional. “Penerapan fosfat alam di PTPN VI dilakukan dengan metode tabur diharapkan memberikan manfaat yg berlebih pada lahan perkebunan kelapa sawit secara optimal dan memberikan efisiensi P yang tinggi sehingga PTP VI terus menghasilkan produksi kelapa sawit yang berkualitas baik” papar Zulkarnain.

Dr. Husnain (Kepala Balittanah) mengatakan 75 % deposit P dunia ada di Morocco. Indonesia sendiri tidak memiliki sumber P namun sangat membutuhkan unsur tersebut sehingga harus mengimpor dari luar. Untuk lahan masam RP tidak perlu diekstrak menjadi pupuk SP-36, sehingga dapat diapilikasikan langsung karena mengandung kalsium yang cocok untuk tanah masam “Aplikasi RP diharapkan tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan atau pangan tetapi juga dapat mengefisienkan biaya pupuk” jelas Husnain. Kepala BPTP Balitbangtan Jambi yang diwakili Dr. Salwati dalam sambutannya mengatakan BPTP Balitbangtan Jambi mempunyai tugas untuk mengkaji kembali hasil-hasil penelitian dari Balai Penelitian dan mendiseminasikannya ke pengguna. Dalam budidaya kelapa sawit permasalahan fluktuasi CPO, isu lingkungan dan terutama produktivitas yang masih lebih rendah bila dibandingkan negara lain diharapkan dapat diatasi dengan aplikasi langsung fosfat alam reaktif Morocco. Anggota DPRD Tingkat 2 Muaro jambi, Taufik berterima kasih atas terselenggaranya acara ini dan berharap agar petani plasma di Muaro jambi dapat mengambil manfaat dari ilmu yang akan disampaikan kemudian mengembangkannya dilapangan.

Usai penyampaian kata sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan. Ada 5 perlakuan P dan 1 kontrol (tanpa P) yang diujicobakan di Afdeling 3 Unit Usaha Bunut PTPN VI pada lahan seluas lebih kurang 8 Ha (1050 pokok kelapa sawit) dalam periode  3 tahun (2016-2019). Dari hasil diskusi dengan petani plasma, permasalahan utama yang dihadapi oleh petani kelapa sawit di Muaro Jambi adalah ketersediaan pupuk yang langka dan harga pupuk yang mahal. Selain itu budidaya kelapa sawit yang tidak ramah lingkungan menjadi tantangan yang perlu dicari solusi inovasi teknologi yang tepat agar peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat direalisasikan tanpa merusak lingkungan. Aplikasi RP sangat dianjurkan pada lahan bukaan baru karena sangat miskin unsur hara. Dalam pemilihan pupuk RP yang perlu diperhatikan adalah reaktifitasnya. Untuk membantu memberikan solusi pada permasalahan petani plasma di Muaro Jambi maka Kepala Balittanah bersedia menjembatani audisensi hasil riset tanaman sawit dengan DPRD Muaro Jambi sehingga dapat memberikan subsidi dan menjamin ketersediaan pupuk RP melalui distributor. Semoga kedepan produktivitas dan mutu kelapa sawit Indonesia semakin baik dan mensejahterakan petani.