JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

KOTA JAMBI - Pagi ini, Jumat 25 Mei 2018 bertempat di Aula Agroinovasi, BPTP Balitbangtan Jambi mengadakan kegiatan pembahasan eksternal usulan matrik kegiatan tahun 2019. Hadir sebagai pembahas eksternal adalah Dr. Wilyus (Faperta UNJA),  Ir. Yulhelmi, M.Si (Bappeda Provinsi Jambi), Ir. Masniari (Dinas TPHP Provinsi Jambi) dan tim manajemen BPTP Balitbangtan Jambi serta ketua-ketua Kelji.

Dalam sambutannya, Kepala BPTP Balitbangtan Jambi Dr. Rustam, mengharapkan para pembahas dapat memberikan saran secara umum dan memberikan rangking prioritas terhadap setiap usulan matrik kegiatan. Untuk tahun 2019 sebanyak 17 usulan matrik kegiatan dibahas guna mendapatkan masukan untuk perbaikan dan kesempurnaan kegiatan nantinya. Diantara beberapa usulan matrik tersebut adalah: Produksi Benih Sumber Padi, Diseminasi Teknologi Budena (Budidaya Kedelai Tahan Naungan), Paket Teknologi Raisa (Rawa Intensif Super Aktual), dan lain-lain.

"Usulan matrik ini merupakan hasil padu padan yang telah dilaksanakan pada awal tahun 2018 yang tentunya bersinergi dengan Balit dan Balai Besar agar sinkron dengan kebutuhan teknologi BPTP sehingga matrik ini ada yang berupa pengkajian dan ada pula berupa diseminasi" tambah Koordinator Program dan Evaluasi Dr. Salwati dalam pembukaan sesi pembahasan.

Potensi pemanfaatan (outcome) dan dampak (impact) dari teknologi hasil kajian dan diseminasi terhadap program strategis Kementan, pembangunan pertanian daerah dan peningkatan pendapatan petani, menjadi kriteria utama  skala prioritas usulan matrik.

Dari kegiatan ini didapat beberapa kesimpulan antara lain, ke-17 usulan matrik menurut pembahasan eksternal sudah mengakomodir kebutuhan daerah. Lebih jauh, kegiatan ini nantinya diharapkan juga sampai ke fase hilirisasi produk pertanian baik dalam bentuk kajian maupun diseminasi. (KS)

Write comment (0 Comments)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

BATANG HARI - Desa Peninjauan Kecamatan Marosebo Ulu memiliki luas wilayah kurang lebih 20.000 hektar, merupakan daerah penyanggah Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) yang memiliki peranan penting dalam menjaga pelestarian ekosistem plasma nutfah didalamnya.   Desa Peninjauan memiliki kekeyaan alam berupa danau, sawah rawa lebak dan komoditas  tanaman durian lokal unggul yang beragam serta sebagai lokasi  jalan lintasan pengunjung yang akan masuk ke lokasi TNBD, sehingga cukup berpotensi untuk menjadi Desa wisata.

Pentingnya keberadaan Desa Penyanggah, maka Balai Taman Nasional Bukit Duabelas mengadakan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa yang bertujuan merancang program desa wisata dengan komoditas tanaman unggulan durian. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu pelatihan perbanyakan bibit durian secara vegetatif dan simulasi pembentukan desa wisata. Pelatihan dilaksanakan selama 4 hari (11-14 Mei 2018) di Aula Kantor Desa Peninjauan dan kebun masyarakat.  Dalam kegiatan tersebut panitia mengundang narasumber dari BPTP Balitbangtan Jambi Joko Supriyanto dan tokoh Relawan dari Solo Mas Jiwo yang merupakan pemegang piagam penghargaan Danamon Award atas keberhasilannya membentuk desa wisata durian di Desa Pogog Kabupaten Jawa Tengah. Acara dihadiri oleh masyarakat desa sebanyak 40 orang terdiri dari aparatur desa dan relawan pemerhati kelestarian lingkungan.

Pelatihan dibagi dalam 2 sesi. Sesi pertama yaitu pemberian teori di ruangan selama 3 hari dengan materi perbanyakan tanaman secara vegetatif sistem sambung dan okulasi, teknologi budididaya durian unggul dan program kelembagaan menuju desa wisata berbasis durian. Sesi ke-2 praktik lapang dilaksanakan pada hari ke-3 yaitu penentuan pohon induk durian untuk batang atas, penyemaian batang bawah durian dan teknologi penyambungan (sambung pucuk, sambung samping dan okulasi). Para peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan, masing-masing peserta mempraktikkan teknologi penyambungan durian minimal 5 bibit.

Pada hari ke-4 peserta kembali menerima pembekalan berupa simulasi pembentukan program desa wisata yang disampaikan oleh Mas Jiwo. Kegiatan simulasi diawali dengan pembagian kuisioner kepada peserta yang bertujuan untuk mengetahui kendala, potensi dan keinginan masyarakat untuk desanya. Mas Jiwo menyampaikan langkah awal yang harus dilakukan yaitu mengidentifikasi sumber daya yang ada di desa, baik keunggulan maupun kelemahan, selanjutnya menentukan arah tujuan. Desa wisata harus didukung dari semua lini yang ada di desa baik sumberdaya alam berupa pertanian, ternak dan estetika alam maupun sumberdaya manusia dan yang paling penting keamanan dan keramahtamahan masyarakat setempat.

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

TEBO - Setelah pengawalan pengolahan tanah, tanam, sampai pemeliharaan usai, agenda kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber Kedelai 38 Ton SS di Dusun Baru, Kecamatan VII Koto, Kab. Tebo selanjutnya adalah panen dan prosessing sampai benih siap didistribusikan ke petani (14 - 16 Mei 2018).

Varietas yang ditanam dalam kegiatan UPBS Kedelai Tahun 2018 adalah Anjasmoro. Hal inipun sejalan dengan preferensi petani. Rahma, seorang anggota KT. Harapan Mulya mengatakan bahwa, “Kami lebih suka menanam kacang kuning yang Anjasmoro karena polongnya tidak mudah pecah dan tanamannya tahan rebah.” Tidak salah memang, Anjasmoro adalah varietas yang dilepas tahun 2001 yang dikenal sebagai varietas yang moderat terhadap penyakit karat daun dan tahan rebah.

Dari luasan 32 ha telah dilakukan pemanenan seluas 26 hektar. Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 85 hari dengan ciri-ciri sebagian besar daun sudah menguning, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna agak coklat dan gundul. Pemanenan dilakukan menggunakan sabit/arit yang cukup tajam agar tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan sehingga pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat dan dapat mengurangi jumlah buah yang rontok.

Pengeringan dilakukan dengan menggunakan sinar matahari yaitu dengan menyusun brangkasan di atas rak-rak yang dialasi terpal dan bisa ditutup dengan terpal yang dibuat sedemikian rupa selama 2-3 hari. Perontokan/pembijian menggunakan threser. Pengeringan biji dilakukan selama 2-3 hari hingga kadar air mencapai 10%. Hasil rata-rata ubinan 1,5 ton/hektar biji kering.

“Capaian 1,5 ton per hektar itu sangat bagus sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan benih di desa bahkan kabupaten di sekitar Dusun baru, Kabupaten Tebo,” ujar Ir. Yardha (Peneliti BPTP Balitbangtan Jambi). Pendampingan dari tim BPTP Balitbangtan Jambi dalam kegiatan UPBS Kedelai juga meliputi prosesing benih.

“Benih hasil panen ini akan ditanam setelah lebaran, untuk itu sangat perlu menjaga mutu fisik dan genetik. Biji  kedelai  yang  disimpan  lama  kadar  airnya  dapat  meningkat  melebihi kadar air awal. Kondisi ini disukai hama bubuk kedelai Bluchus sp,” tambah Ratna Rubiana, S.P., M.Si. (Peneliti BPTP Balitbangtan Jambi).

Write comment (0 Comments)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

KOTA JAMBI - BPTP Balitbangtan Jambi melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Penyuluh BPTP Jambi dengan tema Strategi Pembuatan Berita Pertanian dan Pembuatan Tulisan Ilmiah Populer untuk Dimuat di Media Cetak, Selasa (15/5). Menghadirkan narasumber dari Tribun Jambi, Bimtek yang dilaksanakan di Aula Agroinovasi BPTP Balitbangtan Jambi ini diikuti oleh seluruh penyuluh dan peneliti BPTP Balitbangtan Jambi.

Kepala BPTP Balitbangtan Jambi Dr. Rustam dalam sambutannya menyampaikan peneliti dan penyuluh lebih terbiasa menulis dalam bentuk karya tulis ilmiah sehingga dengan panduan narasumber dari Tribun Jambi ini diharapkan akan diperoleh tambahan ilmu tentang teknik penulisan karya tulis semi populer untuk dimuat di media cetak. Kepala Balai berharap nantinya ada output berupa tulisan yang dimuat di media cetak. “Media cetak tanpa bahan publikasi tentu tidak bisa berkembang, sebaliknya peneliti dan penyuluh tanpa mempublikasi hasil penelitian dan penyuluhannya juga tidak akan terlihat gaungnya” papar Rustam. Dengan demikian hubugan antara publikasi dengan peneliti/penyuluh sangat erat. “Mudah-mudahan dengan adanya acara ini bisa menjembatani penyaluran karya tulis peneliti/penyuluh BPTP di media Tribun Jambi” harapnya yang dilanjutkan dengan membuka acara Bimtek secara resmi.

Ada dua materi yang disampaikan oleh Duanto A. Sudrajat (Narasumber dari Tribun Jambi) yakni strategi pembuatan berita pertanian dan tulisan ilmiah popular di media massa. Dijelaskan oleh narasumber bahwa terdapat perbedaan dalam penulisan karya tulis ilmiah murni yang biasa ditulis oleh peneliti/penyuluh dengan penulisan berita maupun tulisan ilmiah popular di media massa. Berita umumnya ditulis secara ringkas, padat dan jelas dalam bentuk piramida terbalik serta harus memuat unsur 5 W + 1 H (what, who, why, when, where dan how) secara lengkap. Sementara untuk tulisan ilmiah populer disajikan dengan tampilan dan bahasa yang lebih enak dibaca dan mudah dipahami meskipun fakta tetap dituangkan secara obyektif dengan metode berpikir keilmuan. Seiring perkembangan teknologi saat ini, medium yang digunakan juga semakin maju sehingga opsi dalam mempublikasikan karya ilmiah popular semakin banyak dan variatif. Media online misalnya yang saat ini semakin popular umumnya lebih fleksibel dan memiliki jangkauan lebih luas dibandingkan media cetak.

Dalam sesi diskusi diberikan beberapa tips dalam menentukan judul yang menarik dan mentransformasikan tulisan dari karya tulis ilmiah murni menjadi karya tulis ilmiah popular. Menutup acara Kepala Balai berharap ada kerja sama lebih lanjut antara BPTP Balitbangtan Jambi dengan media Tribun Jambi baik dalam pelaksanaan bimtek lanjutan maupun penulisan artikel oleh peneliti/penyuluh BPTP untuk dimuat di media Tribun Jambi.

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

TANJUNG JABUNG BARAT - Tim peneliti BPTP Balitbangtan Jambi mendampingi petani melaksanakan pemberian kapur di pertanaman jeruk pada lahan pasang surut Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Senin (14/5/2018). Aplikasi kapur bertujuan untuk menaikkan pH tanah agar optimal untuk pertumbuhan tanaman.

Pendampingan teknologi pada kawasan hortikultura jeruk telah dirintis oleh BPTP Balitbangtan Jambi sejak tahun 2015. Kendala utama di tingkat petani adalah penerapan teknologi yang belum optimal dan kebiasaan panen muda sehingga harga jual rendah. Pendampingan teknologi dalam bentuk demplot seluas 1 Ha kembali dilaksanakan pada tahun 2018 melalui kegiatan Pendampingan Pengembangan Kawasan Hortikultura.

Berdasarkan hasil analisis tanah diketahui lahan di lokasi kegiatan bersifat sangat masam dengan pH 3,8 sehingga tidak optimal bagi tanaman jeruk yang membutuhkan pH 6. Ameliorasi lahan melalui pemberian kapur dan pemupukan merupakan bagian dari teknologi spesifik lokasi yang disesuaikan dengan kondisi agroekosistem. Pemupukan menggunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia sesuai hasil analisis tanah, dilakukan 4 minggu setelah pemberian kapur.

Teknologi yang juga diterapkan adalah pemangkasan terhadap cabang-cabang non produktif dan tunas air, peningkatan sanitasi kebun melalui penyiangan gulma, pembersihan saluran drainase dan pengendalian OPT. Hasil pengamatan menunjukkan OPT dominan adalah lalat buah, kutu loncat, penyakit CVPD dan diplodia. Penerapan teknologi  yang optimal bertujuan untuk meningkatkan kualitas jeruk hasil sentra produksi Kecamatan betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Write comment (0 Comments)