JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kayu Aro -  Kamis, 14 Desember 2017, BPTP Balitbangtan Jambi mengadakan pelatihan dengan mengusung tema “Teknologi Pengolahan Gula Merah dan Gula Semut dari Tebu”. Pertemuan diikuti oleh ± 60 orang peserta yang terdiri dari para petani tebu dan pembuat gula merah yang berasal dari 9 kelompok tani dari 3 desa yang berdekatan dalam kecamatan Kayu Aro Barat, ketua kelompok tani, ketua Gapoktan, kepala dusun, petugas lapang, dan tim Peneliti BPTP Balitbangtan Jambi.

Dr. Araz Meilin yang juga anggota tim tebu sekaligus peneliti, menyatakan kegiatan ini merupakan hasil tindak lanjut audiensi BPTP Balitbangtan Jambi ke Bupati Kerinci beberapa bulan lalu.  Pada saat audiensi terungkap bahwa adanya keinginan untuk meningkatkan nilai tambah produk olahan tebu yang sejak jaman belanda masih didominasi oleh gula merah sampai saat ini masih tetap gula merah. Padahal banyak produk olahan yang dapat dibuat dari tebu yang banyak terdapat di Kabupaten Kerinci. BPTP Balitbangtan Jambi sebagai salah satu institusi penyedia teknologi memperkenalkan teknologi pengolahan gula semut yang akhir-akhir ini banyak diminati.

Ir. Nur Asni, MS, bertindak sebagai nara sumber mengungkapkan bahwa nilai jual dari gula semut lebih tinggi dibanding gua merah. Gula merah ditingkat petani hanya dihargai 6-8 ribu rupiah sedangkan di pasaran berkisar 10-12 ribu rupiah sementara  gula semut berkisar 35 – 40 ribu rupiah per kilonya. Dengan sedikit sentuhan teknologi gula merah bisa diubah menjadi gula semut yang mempunyai nilai jual yang lebih baik. Lebih lanjut Nara sumber menuturkan bahwa pembuatan gula semut tidaklah terlalu rumit  karena pembuatan gula semut merupakan proses lanjutan dari pembuatan gula merah. Dibanding gula pasir, gula merah memiliki keistimewaan yaitu memiliki kandungan lemak yang rendah  atau low fat, dan banyak manfaat yang terkandung pada gula merah dan gula semut bagi kesehatan tubuh, diantaranya penstabil gula darah bagi orang yang menderita diabetes.

Kata kunci pengolahan hasil pertanian menurut ibu Ir. Nur Asni, MS. adalah MBS yaitu : Panen di saat Matang Optimal, lakukan pengolahan dengan keBersihan yang terjamin, serta produk yang dihasilkan harus Segar.  Untuk tanaman tebu saat matang optimal terjadi pada umur 9-11 bulan tergantung klon tebu. Secara kasat mata dapat ditandai dengan telah menguningnya sebagian besar daun, hanya beberapa helai saja yang hiaju, tinggi batang berkisar 2,5-3 m, kadar kemanisan / Brix 18, jarak waktu panen sampai penggilingan tidak lebih dari 24 jam, dan  jarak waktu antara penggilingan sampai nira diolah adalah 4-5 jam.

Pada Pelatihan kali ini dicobakan 3 cara pengolahan gula semut yaitu: (1) cara yang sudah biasa dilakukan petani (bahan yang digunakan sama dengan bahan untuk pembuatan gula merah, hanya proses dilanjutkan menjadi gula semut), (2) penambahan kapur sirih dan minyak kelapa, (3) penambahan kapur sirih, tatal atau kulit batang pohon nangka dan minyak kelapa. Kapur sirih digunakan sebagai pengawet alami, tatal atau kulit pohon nangka dan minyak kelapa sebagai pencerah warna alami. Dari hasil pengolahan 40 liter nira didapat 5 kg gula semut.

Dalam diskusi diakhir pertemuan terlihat betapa antusiasnya para petani. Berbagai ide terlontar untuk pengembangan gula semut ke depan, mulai dari varian gula semut sampai kemasan. Ibu Mildaerizanti sebagai salah satu tim BPTP Balitbangtan Jambi mengemukakan saran perlunya dibangun sinergi dan kolaborasi yang baik antara bapak petani pengolah gula semut dengan ibu-ibu PKK  yang akan membuat wadah atau kemasan gula semut dari bahan alami seperti daun tebu yang dikemas sedemikian rupa nantinya bisa menjadi cenderamata khas dari Kayu Aro Barat. Bapak Erianto sebagai Ketua Gapoktan dan beberapa ketua kelompok tani bergerak cepat dengan segera akan menindak lanjuti hasil pelatihan ini dengan mengadakan pertemuan gapoktan, untuk membahas bagaimana cara pengembangan gula semut kedepan, rencana pemasaran dan promosi yang akan dilakukan.

Diperlukan segera adanya campur tangan dari dinas terkait seperti dinas perindagkop, dinas kesehatan, dinas pariwisata dll untuk menjemput bola yang telah dilemparkan demi meningkatkan taraf hidup petani dan kemajuan masyarakat Kabupaten Kerinci khususnya dan Provinsi Jambi umumnya.  Semoga..

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Di Indonesia kelapa sawit merupakan salah satu komoditas primadona ekspor di sektor nonmigas. Pada tahun 2016 luas areal kelapa sawit adalah 11,8 juta Ha dengan produksi mencapai 35 juta ton CPO dan total ekspor mencapai 27 juta ton. Kelapa sawit umumnya ditanam dilahan masam yang memiliki keterbatasan tingkat kesuburan tanah. Lahan kering masam memiliki permasalahan utama dengan ketersediaan fosfat (P) dalam tanah. Pupuk P yang diberikan dalam bentuk cepat tersedia akan segera diserap oleh Fe dan Al yang mendominasi tanah masam sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman, sehingga diperlukan pupuk P dalam bentuk lepas lambat namun sangat reaktif seperti reaktif fosfat alam dari Morocco. Untuk mewadahi diseminasi pengelolaan lahan kering melalui aplikasi fosfat alam reaktif Morocco sebagai alternatif pupuk fosfat lainnya maka dilaksanakan kegiatan Temu Lapang Peningkatan Produktivitas Tanaman Kelapa Sawit Melalui Aplikasi Langsung Fosfat Alam Reaktif Morocco pada Rabu (13/12) di Afdeling 3 Unit Usaha Bunut PT Perkebunan Usaha VI Kecamatan Bahar Utara Muaro Jambi. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Badan Litbang Pertanian (Balittanah) dengan OCP. S.A. Hadir dalam kegiatan Perwakilan Kantor Direksi PTPN VI Manajer Kebun Unit Usaha Bunut, OCP. S.A. Singapore, Anggota DPRD Tk. 2 Muaro Jambi, Kepala Balittanah, Kepala BPTP Balitbangtan Jambi, Camat Bahar Utara, Perwakilan Sime Darby Malaysia, Universiti Putra Malaysia, Perwakilan PT. Agri Hikay, Perwakilan PT. Astra Agro Lestari dan petani plasma.

Dijelaskan oleh manajer Kebun Unit Usaha Bunut Zulkarnain Harianja, PTPN VI yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit telah bekerjasama melakukan penelitian dengan Balittanah dalam pengembangan fosfat alam pada lahan perkebunan kelapa sawit. Dalam kurun waktu 8,5 bulan pada perlakuan pemberian dosis 3 kg per pohon pupuk Rock Phosphate (RP) menunjukkan peningkatan berat janjang rata-rata sebesar 29-30 %. Zulkarnain berharap agar kedepan ada hasil yang lebih baik dengan waktu pengamatan yang lebih rasional. “Penerapan fosfat alam di PTPN VI dilakukan dengan metode tabur diharapkan memberikan manfaat yg berlebih pada lahan perkebunan kelapa sawit secara optimal dan memberikan efisiensi P yang tinggi sehingga PTP VI terus menghasilkan produksi kelapa sawit yang berkualitas baik” papar Zulkarnain.

Dr. Husnain (Kepala Balittanah) mengatakan 75 % deposit P dunia ada di Morocco. Indonesia sendiri tidak memiliki sumber P namun sangat membutuhkan unsur tersebut sehingga harus mengimpor dari luar. Untuk lahan masam RP tidak perlu diekstrak menjadi pupuk SP-36, sehingga dapat diapilikasikan langsung karena mengandung kalsium yang cocok untuk tanah masam “Aplikasi RP diharapkan tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan atau pangan tetapi juga dapat mengefisienkan biaya pupuk” jelas Husnain. Kepala BPTP Balitbangtan Jambi yang diwakili Dr. Salwati dalam sambutannya mengatakan BPTP Balitbangtan Jambi mempunyai tugas untuk mengkaji kembali hasil-hasil penelitian dari Balai Penelitian dan mendiseminasikannya ke pengguna. Dalam budidaya kelapa sawit permasalahan fluktuasi CPO, isu lingkungan dan terutama produktivitas yang masih lebih rendah bila dibandingkan negara lain diharapkan dapat diatasi dengan aplikasi langsung fosfat alam reaktif Morocco. Anggota DPRD Tingkat 2 Muaro jambi, Taufik berterima kasih atas terselenggaranya acara ini dan berharap agar petani plasma di Muaro jambi dapat mengambil manfaat dari ilmu yang akan disampaikan kemudian mengembangkannya dilapangan.

Usai penyampaian kata sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan. Ada 5 perlakuan P dan 1 kontrol (tanpa P) yang diujicobakan di Afdeling 3 Unit Usaha Bunut PTPN VI pada lahan seluas lebih kurang 8 Ha (1050 pokok kelapa sawit) dalam periode  3 tahun (2016-2019). Dari hasil diskusi dengan petani plasma, permasalahan utama yang dihadapi oleh petani kelapa sawit di Muaro Jambi adalah ketersediaan pupuk yang langka dan harga pupuk yang mahal. Selain itu budidaya kelapa sawit yang tidak ramah lingkungan menjadi tantangan yang perlu dicari solusi inovasi teknologi yang tepat agar peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat direalisasikan tanpa merusak lingkungan. Aplikasi RP sangat dianjurkan pada lahan bukaan baru karena sangat miskin unsur hara. Dalam pemilihan pupuk RP yang perlu diperhatikan adalah reaktifitasnya. Untuk membantu memberikan solusi pada permasalahan petani plasma di Muaro Jambi maka Kepala Balittanah bersedia menjembatani audisensi hasil riset tanaman sawit dengan DPRD Muaro Jambi sehingga dapat memberikan subsidi dan menjamin ketersediaan pupuk RP melalui distributor. Semoga kedepan produktivitas dan mutu kelapa sawit Indonesia semakin baik dan mensejahterakan petani.

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan target pencapaian swasembada pangan. Pada tahun 2016 impor jagung sudah menurun sekitar 60% dan pemerintah berharap tahun 2018 jagung sudah tidak impor. Penyediaan benih bermutu menjadi salah satu strategi untuk mencapai swasembada jagung berkelanjutan. Teknologi unggulan yang dirilis oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, melalui Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balit Serealia) adalah NASA-29 (Nakula Sadewa-29).

Kelompok Tani Bina Tani Indah, Desa TKP Indah, Kecamatan VII Koto Ilir, Kabupaten Tebo dipercaya melaksanakan kegiatan Percepatan Pengembangan Jagung Hibrida Nasa 29 dengan pendampingan dari BPTP Jambi. Setelah melalui 100 HST (11/12), panen dilakukan di lahan seluas + 9 ha dengan estimasi hasil 2 ton/ha. Panen dilanjutkan dengan acara temu lapang dengan narasumber dari Tim Pemulia Jagung dari Balisereal Ir. Bahtiar, M.S dan Dr. Roy Effendi.

“Estimasi hasil 2 ton/ha mungkin amat kecil, namun ingat, yang kita tanam adalah benih hibrida yang memiliki potensi hasil tinggi mencapai 13,5 ton/ha, selain potensi hasil yang tinggi, jagung ini memiliki ketahanan terhadap penyakit bulai, karat, dan hawar”, papar Bahtiar.

Jagung hibrida tongkol ganda merupakan hasil persilangan antara galur inbrida dengan kode G10.26-12 sebagai tetua betina dan MAL03 sebagai tetua jantan. “Semakin jauh kekerabatan tetua maka akan semakin baik sifat yang diturunkan, contohnya anak indo”, terang Roy Effendi yang disambut dengan gelak tawa petani. Roy Effendi menjelaskan sejarah Nasa 29 dengan bahasa yang mudah dipahami oleh petani.

Pada acara panen ini, Kepala BPTP Jambi, Kadis TPHP Provinsi Jambi, Kadis TPHP Kabupaten Tebo, Kepala UPTD Perbenihan, Kepala UPTD BPSPT, Danramil 416/04 Pulau Temiang Kecamatan VII Koto Ilir, Ketua BP3K Kecamatan VII Koto Ilir, Babinsa Desa TKP Indah berkesempatan hadir dan memberikan sambutan dan ucapan terima kasih kepada petani atas usaha kerasnya.

Write comment (0 Comments)

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kegiatan yang merupakan rangkaian dari Bioindustri nanas-sapi BPTP Balitbangtan Jambi ini dilaksanakan Kamis, 7 Desember 2017 di kantor Kepala Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.Diikuti 73 peserta terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang terangkum dalam beberapa kelompok tani nanas di Desa tersebut.Materi disajikan secara menarik oleh narasumber dari BPTP Jambi dan Dinas Perindustriandan Perdagangan Provinsi Jambi. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dalam menguasai teknologi dan inovasi serta manajemen pengembangan usaha nanas. Disela-sela diskusi terungkap permasalahan terbesar mereka yakni masalah kualitas produk olahan, kemasan, pemasaran dan alat-alat yang masih bersifat tradisional.Mengingat masyarakat terutama ibu-ibu di daerah ini sangat reponsif terhadap teknologi-teknologi yang sudah diterapkan dan sangat antusias , maka mereka bisa dinilai sangat pantas untuk mendapatkandukungan alat-alat terkait untuk meningkatkan kualitas produk dan bantuan penyaluran produkatau kepastian pemasarannya. Hal ini direspon positif oleh ibu Rosnifa, SE, MM, Kabid. Industri UMKM Perindag, Provinsi jambi selaku narasumber dan menjadi catatan penting untuk rancangan sinergi kedepan.
KegiatanTemu Lapang dilengkapi dengan praktek pembuatan sari buah nanas dimodifikasi dengan wortel yang tidak menutup kemungkinan lain bisa dicampur dengan timun, tomat, papaya dan lain-lain bahkan sayuran hijau. Antusiasme peserta yang didominasi ibu-ibu terlihat dari berbagai macam pertanyaan yang ditujukan langsung pada saat itu dan mereka terjun langsung dalam pembuatan sari buah terebut. BPTP Jambi juga menyajikan olahan nanas yang sudah jadi yaitu permen jelly nanas dan sari buah nanas terung untuk memberikan inspirasi kepada peserta tentang aneka usaha olahan nanas yang sangat beragam dan diharapkan mereka bisa menerapkan teknologi yang telah disampaikan untukpengembangan usaha nanas di desa tersebut.
Kegiatan TemuLapangdilanjutkan denganmengajak peserta kelapangan yang didominasi oleh bapak-bapak untuk melihat langsung perbandingan teknologi budidaya terapanBalitbangtan dengan teknologi petani setempat. Diharapkanpara petani penerapan teknologi anjuran oleh petani dapat meluas guna peningkatan hasil panen yang berpengaruh kepada peningkatan pendapatan petani. Disamping itu salah satu point penting dari penyelenggaraan kegiatan ini adanya sinergisitas antara BPTP dan Pemerintahan Desa Tangkit yang sudah dimulai sejak 2015, pada tahun ini peningkatan kapasitas pengrajin dan petani sudah diakomodir dalam Program Desa.Semoga hal ini kedepannya jadi program yang dan terobosan untuk memacu pembangunan pertanian khususnya mengangkat kejayaan Nanas Tangkit.

Write comment (0 Comments)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Kreativitas sangat diperlukan peternak dalam mengembangkan usaha peternakan. Pandangan peternak dalam menjalankan usaha peternakan kedepan diharapkan tidak lagi hanya sebatas memelihara ternak sebagai tabungan namun dapat memanfaatkan ternak sebagai modal usaha ekonomi dalam arti luas. Kreativitas peternak digugah kembali oleh pembicara Dr. Zubir dan Ir Bustami pada pelaksanakan kegiatan temu lapang pengembangan model usaha tani integrasi sapi-sawit pada perkebunan rakyat menuju pertanian bioindustri berkelanjutan.  Kegiatan tersebut dilaksanakan tanggal 7 Desember 2017 lalu di balai Desa Bukit Suban Sarolangun dihadiri oleh Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sarolangun, perwakilan camat Kecamatan Air Hitam, Kepala Desa, peneliti BPTP Balitbangtan Jambi, petugas penyuluh dan kesehatan ternak pengurus SPR serta peternak yang berasal dari berbagai desa disekitar Desa Bukit Suban.

Peternak yang berkecimpung dalam usaha integarasi sapi sawit diharapkan dapat melihat peluang besar dalam memaksimalkan produk samping dalam usaha tersebut. Penggunaan teknologi yang tepat guna dapat meningkatkan nilai jual produk samping hasil pemeliharaan ternak dan dimnfaatkan memperbaiki kemampuan produksi buah sawit serta menyediakan sumber pakan yang ada setiap saat. Teknologi yang selama ini telah disediakan Balitbangatan melalui BPTP Balitbangtan Jambi diharapkan dapat mendorong peternak untuk kreatif dan mampu mengembangkan inovasi tersebut sesuai kebutuhan masyarakat. Pada acara temulapang tersebut juga diadakan pelatihan pembuatan kompos menggunakan bahan utama tandan kosong dan bahan-bahan yang mudah didapat lainnya.

Diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat peternak dan pengambil kebijakan.

Write comment (0 Comments)

Subcategories